Rabu, 09 September 2009

MEREKA BILANG TUHANPUN TIDAK MAMPU MELAKUKANNYA

Pada waktu kelas dua belas, aku berubah menjadi sangat pemalas. Entah itu karena aku terlalu lelah menjadi anggota OSIS selama kelas sebelas atau bagaimana aku tak tau. Aku sempat hilang kendali dan tidak pernah belajar. Aku memohon pada ayahku untuk membiayai aku ikut bimbingan belajar yang agak mahal. Aku pikir itu akan membantuku belajar nantinya. Aku menghabiskan waktu belajarku dengan bermain, pergi ke mall, dan menonton film. Hingga pada suatu saat aku muak dengan semua pelajaran. Aku sudah bosan pergi ke sekolah. Sangat melelahkan dan membosankan bagiku. Aku tak pernah pergi ke tempat les padahal diantara semuanya hanya aku yang menbayar lunas biaya belajar mengajar di lembaga itu, banyak dari mereka yang masih menyicil. Melihat itu semua teman-temanku mulai khawatir diantara mereka selalu meemehkan aku. Tapi aku tak jua mendengarkan mereka. Aku terus menghabiskan waktuku dengan bermain dan bermain.

Aku ingat kata seorang temanku “ kamu kok nggak niat sekolah seh , Vik?! Sebentar lagi mau UNAS. Apa yang kamu pikirin?” dan aku tak pernah menggubrisnya. Satu kata lagi yang pernah membuat aku sakit hati temanku pernah bilang “ ya nggak mungkinlah Vicky bisa masuk SNMPTN. Itu mustahil, dia kan nggak pernah belajar!” tapi aku tetap santai dan tidak terlalu pusing memikirkannya.

Pada suatu ketika aku pulang ke rumah orangtuaku yang ada di Negara, Bali. Mereka menanyakan serius tentang cita-citaku. Dan aku mulai memikirkannya. Apa yang akan kulakukan setelah aku lulus kuliah? Aku tak boleh salah jalan. Aku ingin menjadi apa? Dan ini kali pertama aku memikirkannya. Aku sudah gagal menjadi seoarang ahli tehnik mesin karena aku adalah anak Sosial. Aku ingin menjadi seorang manajemen, aku ingin mempunyai bisnis pribadi, dan aku harus punya uang banyak. Itulah yang terlintas di benakku. Tapi hal yang paling kuat bergelanyut dalam otakku adalah uang. Kenapa tidak aku bekerja saja? Aku tak perlu buang-buang waktu untuk bersekolah. Aku sudah muak dengan pelajaran, dan aku harus punya uang sebanyak-banyaknya. Dan sampai akhir masa study di sekolah aku tetap bersih keras ingin bekerja. Aku memutuskan untuk mengambil kuliah pengembangan profesi. Aku punya rencana-rencana yang sudah tersusun rapi. Apabila aku lulus, aku telah memiliki pengalaman bekerja, aku meneruskan s1 dengan uangku sendiri dan aku akan membuka bisnis lapangan pekerjaan.

Rencana itu sudah terlalu rapi, dan aku sangat yakin bisa melaluinya. Aku merasa mampu, dan aku akan berusaha sekuat tenaga. Aku sudah sangat muak dengan pelajaran dan aku tak mau lagi merasakan bosannya bangku perkuliahan yang harus kuhabiskan selama 4 tahun. Tapi semua rencana itu dikacaukan oleh ayahku yang ternyata tak setuju dengan ideku. Ayahku merasa tak dihargai dengan ide tersebut. Aku dipaksa harus sekolah, harus kuliah dan punya gelar. Oh, tidak! Wajar bila aku memikirkan adikku yang juga akan berkuliah. Bila aku sekarang mengambil gelar sarjana, apakah umur ayah masih cukup untuk membiayai kami semua mengenyam bangku perkuliahan. Aku merasa jadi orang yang tak berdaya saat itu. Aku terus berpikir, bagaimana caranya aku dapat membiayai adik-adikku. Bila aku nekat mengikuti SNMPTN pun aku rasa tidak mungkin. Aku tak pernah belajar, tak pernah masuk les, dan muak dengan pelajaran. Aku terus-terusan membayangkan bangku kuliah yang sangat mahal bagiku.

Ayahku terus memaksa aku harus ikut SNMPTN agar biaya kuliahku murah. Namun aku merasa tak mungkin. Aku benar-benar tak mampu. Aku malu bila nantinya ternyata aku tak diterima di universitas yang aku inginkan. Tapi karena aku harus melakukannya akhirnya aku memutuskan untuk membeli formulirnya. SNMPTN adalah ujian nasional untuk masuk ke perguruan tinggi. Ikut jalur khusus saja yang hanya bersaing dengan anak-anak seregional aku merasa tak mampu, apalagi harus bersaing dengan ribuan orang di Indonesia. Akhirnya inilah keputusanku, aku harus mengikutinya dan sekolah professional yang telah aku lunasi uang mukanya itu menjadi cadanganku bila aku tidak diterima di perguruan tinggi negeri.


Aku terus bergumul, aku lupa bahwa aku punya Tuhan yang sanggup. Aku memohon ampun kepadaNya. Aku berdoa, dan inilah yang kukatakan “ Tuhan, berikan aku hati yang mengampuni bila nanti aku gagal dan ayahku terus mengolokku didepan keluarga besarnya. Tuhan beri aku hati yang mengasihi, apabila mereka merendahkanku”. Aku mengucapkan doa itu seolah aku tau bahwa aku akan kalah. Aku sudah kalah. Aku memberikan buku-buku lesku pada teman-teman yang membutuhkan, karena aku merasa sudah tak ada gunanya lagi belajar. Teman-temankupun bilang, aku tak mungkin berhasil. Dan aku megakui kekuranganku.

Pada saat test itu berlangsung, aku menyerahkannya semua pada Tuhan. Bila aku tidak diterima berarti memang wajar dan aku dengan lapang dada akan menerimanya. Soal demi soal kukerjakan tanpa berpikir seperti teman-teman lainnya yang dengan serius mengerjakan. Ketika waktu test hari pertama berakhir. Aku menulis sebuah kalimat di Lembar Jawaban –JESUS HELP ME-. Dan aku tersenyum melihat tulisanku sambil membatin “ huh, andai aku belajar dari dulu pasti aku bisa mengerjakannya”. Hari keduapun dimulai dan kuteliti biodataku. Dan ada sesuatu yang kutemukan, bahwa aku lupa mengisi data nomor ujian test pada hari pertama. Astaga! Aku benar-benar ceroboh. Dari data saja aku sudah salah. Pasti kertas ujianku akan dibuang. Ini sangat menyakitkan buat aku. Aku sedih sekali. Namun aku berusaha menghibur diri. “Tuhan Vicky hanya minta hati yang mengampuni”

Tak terasa hari-hari berlalu, tanggal pengumumam hasil test diselenggarakan. Aku tak berharap banyak. Aku yakin aku telah kalah. Satu-satunya yang kuminta adalah hati yang mengampuni. Dan malam hari hasil sudah diumumkan. Aku tak kuasa melihat hasilnya. Aku menangis “ Tuhan, apa yang kurasakan saat ini?” aku tak menginginkan lolos SNMPTN, tapi mengapa Kau buat hatiku gelisah?”. Aku sangat takut melihat pengumuman di internet yang sudah beredar malam harinya. Aku sangat takut dan secara spontan mengirim pesan singkat pada semua teman-temanku “ kauand, gmn hsl SNMPTNnya ? Q ga msuk PTN. Hiks”. Merekapun menjawab ada yang lolos dan banyak yang gagal.. padahal aku sendiri belum tau jelas aku lolos ato tidak. Aku berdoa pada Tuhan sambil meneteskan air mata “Tuhan, bila aku tidak lolos, aku BERSYUKUR telah membantu teman-temanku hingga lolos. Aku memberikan buku-buku pelajaranku kepada mereka agar mereka dapat belajar”

Pada pagi hari terasa gelisah terus menerpaku. Seperti ada kekuatan magis yang menyeretku keluar untuk membeli koran pagi ini. Padahal hatiku berbicara AKU SUDAH GAGAL. Tapi ada kekuatan yang memaksaku untuk membeli Koran. Ketika Koran itu kubeli, melihat ratusan ribu nama-nama yang lolos aku terus melihat dan memperhatikan nama demi nama. Dan aku menemukan namaku disana. Aku sungguh tak percaya, aku sungguh terkejut. Ini seperti mimpi! Bagaimana mungkin? Dataku salah, aku tak pernah belajar, dan aku sangat yakin diriku gagal. Aku spontan berlutut dan menangis. Ini adalah sebuah keajaiban yang tak pernah kuduga sebelumnya. Ini sama sekali bukan kekuatanku. Ini 100% rancangan Tuhan. Tuhan tak pernah mau anaknya dipermalukan. Tuhan itu Allah yang luar biasa. Aku menyadari sebuah hal, orang-orang lemah dipakai Tuhan untuk menyatakan karyanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar